Kita tak bisa hanya menutup mata saja mengenai fenomena krisis keteladanan bangsa ini. Bagaimana tidak? Pemimpin yang kita harapkan menjadi central figure bagi seluruh rakyat, melakukan perilaku yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang pemimpin. Para penegak keadilan yang sejatinya memberantas korupsi seperti kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan masygul dengan masalah internnya sendiri bergelut menjadikan mereka bukan sebagai subjek yang mengatasi masalah tapi menjadi masalah itu sendiri. Indonesia dan dunia Islam saat ini sangat merindukan pemimpin yang memiliki visi, kompetensi, integritas dan suri tauladan yang layak untuk ditiru, juga sanggup membawa setiap insan Indonesia lebih maju dan bermartabat.
Permasalahan yang kerap dialami dunia Muslim, termasuk Indonesia sebenarnya tak bisa dipisahkan dari absennya figur pemimpin tersebut. Pelayanan kesehatan yang sulit terjangkau, manajemen transportasi semakin amburadul, sungai dan air yang tercemar oleh limbah dan sampah yang menumpuk, lalu berakibat banjir dan mengganggu eksistensi pangan karena terancam gagal panen. Beberapa fenomena yang menghiasi segala media turut meratapi seakan bertanya, apa salah bangsa ini?.
Memang, pada dasarnya kesuksesan bangsa adalah akumulasi dari kesuksesan penduduknya secara individual. Namun, pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan dan manajemen cemerlang akan secara langsung menginspirasi pengikutnya. Al-Qur'anpun secara terang menyinggung masalah kepemimpinan tersebut, dalam QS. Al-Nisa (4) : 59 "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya".
Nabi Muhammad SAW yang teladan kepemimpinannya dapat dikembangkan dalam banyak hal, diakui lebih dari 1,5 milyar manusia dan terbukti hingga saat ini masih relevan diterapkan. Namun terkadang kita merasa enggan dan angkuh untuk mendalaminya. Beliau mengalami masa-masa sulit di waktu kecilnya, menjadi yatim piatu dan menggembala binatang ternak penduduk Makkah. Di usianya yang masih belia, ia belajar berdagang mengikuti pamannya Abu Thalib berdagang ke daerah-daerah sekitar Jazirah Arab. Beliau pernah merasakaan hidup sebagai orang yang susah sehingga dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang sedang mengalami kesulitan hidup. Beliau juga pernah menjadi orang kaya, sehingga dapat dijadikan teladan bagaimana seharusnya menggunakan kekayaan. Beliau adalah pemimpin di berbagai bidang sehingga kita dapat meneladani kepemimpinannya. Sebagai seorang manager, investor dan entrepreneur karena ia telah menghabiskan 25 tahun berkecimpung dalam dunia bisnis. Namun, kita seakan mengabaikan sikap beliau dalam berdagang yang merupakan sunnahnya. Padahal, nilai-nilai inspirasi dan kebijaksanannya dalam melakukan jual-beli itulah yang merupakan pesan multidimensi dan wajib kita emban sebagai solusi permasalahan yang kita hadapi.
Sungguh jalan hidup yang menginspirasi kita bagai sebuah mata air yang jernih serta tak habis untuk digali manfaatnya. Bahkan para sejarawan telah menuliskan kehidupan beliau dengan berbagai macam gaya penulisan yang bermacam-macam seakan tak kunjung selesai. Terbukti, beliau adalah manusia yang paling banyak ditulis sejarah hidup dan kehidupannya.
Manajemen Hidup
Merupakan hal yang biasa, mengkaji seorang nabi dari nilai spiritualitas dan teologinya, bahkan seringkali kaum orientalis melancarkan serangan terhadap perilaku kepribadian Muhammad SAW. Beberapa aspek penting lainpun kerap luput dari rasa keingintahuan (since of curiosity) kita untuk ditelaah lebih mendetail. Aspek bisnis beliau misalnya, yang telanjur terjun dalam kehidupan sebagai seorang pengusaha sejak usia 12 tahun. Masa kecil yang menuntut psikologis kemandiriannya menjadi seorang wirausahawan di kemudian hari, karena pamannya adalah yang paling sederhana hidupnya diantara saudaranya yang lain. Terlebih lagi, Muhammad kecil menggembala ternak penduduk Makkah demi membantu ekonomi keluarga sang paman. Jika kita cermati lebih lanjut menggembala ternak merupakan pekerjaan yang memerlukan keahlian leadership dan manajemen yang baik, sebagai sebuah proses pembentukan karakter yang sangat efektif dilihat dari disiplin pekerjaan tersebut yaitu mencari gembalaan yang subur (path-finding), mengarahkan menggiring ternak ke padang gembalaan (directing), mengawasi agar tidak tersesat atau terpisah dari kelompok (controlling), melindungi dari hewan pemangsa dan pencuri (protecting), perenungan alam, manusia dan Tuhan (reflecting). Terlebih lagi dalam proses merintis karirnya sebagai seorang pedagang. Beliau memulainya dengan berdagang kecil-kecilan, hingga pada suatu ia menjadi mudharib dengan menerima modal dari investor dan para janda kaya yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana mereka untuk berdagang. Dalam menjalankan seluruh pekerjaannya sebagai pedagang, beliau memperkaya diri dengan kejujuran, keteguhan memegang janji, dan sifat mulia lainnya. Sampai Khadijahpun terkagum oleh perangainya yang agung dan menikahinya. Perubahan status dari mudharib menjadi bussines owner setelah menikah membuat pintu untuk benar-benar menggeluti bidang perdagangan. Beliau melarang segala hal yang dapat meruntuhkan kehalalan jual-beli seperti kecurangan dalam timbangan, menyembunyikan cacat barang yang dijual, riba, gharar dan sebagainya. Beliau yakin kesuksesan berbisnis dapat dicapai tanpa menggunakan cara-cara bisnis yang terlarang tersebut. Teladan dan tuntutan yang diberikan oleh Rasulullah SAW dalam bisnis dan berekonomi semakin banyak dibuktikan oleh teori-teori ekonomi dan manajemen modern. Akhirnya, satu alasan lagi mengapa keteladanan Rasulullah SAW relevan sepanjang zaman terjawab. sepanjang masa.
Teori Kepemimpinan
Beberapa teori kepemimpinan yang dapat kita contoh dari pribadi nabi Muhammad SAW yaitu perintis (pathfinding), penyelaras (aligning), pemberdaya (empowering), dan panutan (modeling). Sebagai contoh, beliau dapat membangun tatanan sosial yang baik dan modern, membangun sistem hukum yang kuat, hubungan diplomasi dengan suku-suku dan kerajaan di sekitar Madinah juga strategi pertahanan dan peperangan. Semua itu menunjukan adanya personal leadership dan self development terpancar dari sebuah akhlaqul karimah yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Keluhuran akhlak inilah tentunya menjadi jawaban atas kesuksesan beliau, baik sebagai pribadi, pemimpin keluarga, bisnis, dan masyarakat. Sebuah kesuksesan yang berumur panjang, selalu dikenang dan diteladani
Buku ini semakin menumbuhkan kesadaran untuk mengaitkan perjalanan hidup pribadi, keluarga, bisnis, sosial, politik, militer, hukum, dan pendidikan Rasulullah SAW dengan disiplin leadership dan manajemen. Dengan sumber referensi yang otentik dari hadits yang dapat dijelaskan derajat keshahihannya, keterangan denah dan peta terkait even pentingpun dipaparkan secara gamblang. Penulis mencoba melihat Rasulullah SAW dengan kaca mata baru yang lebih luas yaitu bukan saja mengakuinya sebagai nabi dan rasul tetapi juga menempatkannya sebagai pemilik models of management juga traits of leadership dengan harapan menjadi pembelajaran yang wajib dicerna dan dikaji, agar mereka para pemimpin memiliki sifat dasar visioner, amanah, berani, berkemauan kuat serta memiliki integritas berujuk pada relevansi kepemimpinan dan manajemen Nabi Muhammad SAW.
Judul : Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager
Penulis : Dr. Muhammad Syafi'I Antonio, M.Ec
Penerbit : Tazkia Multimedia & ProLM Centre
Cetakan : 2007
Tebal : xiv + 320 halaman
ISBN : 978-979-16712-0-0

0 komentar:
Posting Komentar