10 Mei 2012

Eksekutor Sejati



Suatu waktu ada percakapan dengan teman saya tentang doa dan takdir, loh kenapa kita harus doa sih, kan seluruhnya sudah tertuls di kitab lauhul mahfudz di sana? 

Memang apabila doa telah terucap apakah takdir yang sudah ditetapkan tidak akan terjadi? Bermacam pertanyaan tentang masalah rukun iman qodho dan qodar ini terus ditanyakan kepada saya, untuk memulai diskusi

Saya pun tidak menjawab langsung namun kembali menanyakan “jadi kamu ndak percaya kun fayakunnya Allah? Ia pun segera menjawab “percaya”

Sebelum ke arah situ, mari kita ngobrol dulu tentang ekonomi, apakah pasti orang yang berinvestasi pada portofolio tertentu yang dihadapkan pada kondisi high risk pasti akan mendapatkan high return? Tentunya belum pasti, namun dia bisa mengharapkan lebih “high expected return” dalam pengembaliannya. Tergantung kepada pengetahuan dan kapabilitas dia juga sesuatu yang berimpact langsung pada investasi tersebut kan.

Dari penggambaran penciptaan alam semesta dalam enam (masa) saya dapat mengambil hikmahnya bahwa segala sesuatu perlu proses dan usaha, ndak bimsalabim walau Sang Pencipta pasti mampu untuk melakukannya.

 (Wa an laisa lil insana, wa anna sa’yahu saufa yuro) Al-Ayat. 

Dan tidaklah ditampakan kepada mereka kecuali apa yang mereka usahakan.

Lalu mengapa pada surat Al-Insyirah yang didahulukan kata

(waidza faroghta fanshob wa ila robbika farghob)

Yang jelas sekali bahwa kita harus berusaha bila kita dalam keadaan kosong farogh lalu serahkan sepenuhnya eksekusi hasil akhir pada Yang Maha Kuasa.

Biar bagaimanapun tidak ada akibat tanpa ada sebab, dan kitalah yang memperkuat sebab tersebut hingga terjadinya akibat, masalah itu baik atau buruk itulah yang kita serahkan. Karena ndak semua yang kita lihat baik sesungguhnya baik untuk kita begitu pula sebaliknya.

(Asa an takrohu syaian fahuwa khoirun lakum, wa asa an tuhibbu syaian fahuwa syarrun lakum),

Terkadang apa yang kita benci justru itu lebih baik sebenernya untuk kita begitu pula sebaliknya. Jadi, bukan prespektif kita yang dijadikan tolak ukur baiknya hal tersebut, sebahagia apapun kita.

Kemarin pas sekali, ketika saya sedang mengendarai motor secara mendadak pengendara motor di depan
saya menyerempet taxi dan jatuh tepat satu meter di depan saya. Saya pun tiba-tiba menginjak rem mendadak, dan langsung menghampiri pengendara tersebut.

Bayangkan bila yang terjadi saya sedang ngebut dan langsung melindas pengendara motor yang berboncengan tersebut, atau dari sisi lajur lain ada mobil yang melintas? Mungkin saya tidak bisa share dan posting di blog ini sekarang.

Mungkin semua karena doa, karena seucap kata bismillah sebelum saya berangkat dari rumah, mungkin skenario jatuhnya motor tersebut sudah disetting sedetail mungkin beserta segala peran tiap individu manusia di jalan tersebut. Sungguh mudah bagi Allah untuk membuat skenario dan mengingatkan kita dengan perantara makhluk lain.

Jadi, niatkan yang baik, datanglah kepada Yang Maha Kuasa, Biarkan hasil akhir di eksekusi oleh-Nya.
Karena Dia The Best Maker, The Best Excecutor

0 komentar:

Posting Komentar