Bangsa yang
besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya sendiri. Lalu, pertanyaan selanjutnya
yang timbul adalah apakah sejarah yang dipelajari benar-benar relevan untuk
ditinjau kembali dan mengandung pesan yang dalam akan perjuangan bangsa ini?
hingga diharapkan para pelajar bangsa Indonesia begitu menghayati dan
meneruskan pesan moral para pejuang bangsa. Namun, dewasa ini sepertinya
pelajaran ini hanya dijadikan sebagai hafalan dan subjek andalan ilmu sosial
untuk masuk ke perguruan tinggi.
Pelajaran di
sekolah pun dimulai dari zaman prasejarah dengan masa paleothikum,
mesolitikum, neolithikum dengan
menggambarkan logika yang tidak bersumber apapun secara manuskrip historis.
Keadaan peradaban manusia yang sangat terbelakang dipelajari sangat serius
dipelajari tanpa dapat mengambil hikmahnya. Benang merah dalam rasionalitas
sejarah secara kurun waktu dikesampingkan dan lebih mengedepankan asumsi-asumsi
yang menghanyutkan nilai-nilai wahyu dan agama.
Islam
menceritakan kurun waktu kehidupan manusia dengan diutusnya Nabi-nabi dalam
Al-Qur’an dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad. Bayangkan apakah peradaban
pada saat Nabi Nuh terbelakang, hingga dapat membuat bahtera yang luar biasa? Apakah
bangunan-bangunan yang kini masih bisa kita lihat secara artistik merupakan
istana pada zaman dahulu, menggambarkan kolotnya peradaban manusia zaman
dahulu? Dan banyak bukti lainnya yang menggambarkan dahulu kala manusia telah
memiliki peradaban yang maju, jauh dari prasangka umumnya sejarah menceritakan.
Sekali lagi deislamisasi dalam penulisan sejarah, kental sekali di negeri ini.
Lalu tentang
Indonesia, banyak informasi penting tidak dicantumkan untuk ditelaah dan
dipelajari. Misalnya penamaan nama geografis beberapa daerah di Indonesia missal
Danau Toba berasal dari (Thoyyib = Baik) atau Maluku (Jazirah Al-Muluk=daratan
penguasa) diserap dari bahasa arab , membuktikan betapa kuatnya kekuatan maritim
Islam yang menguasai dua pertiga dunia. Atau tentang proklamasi tanggal 17
Agustus 1945, jika kita menyesuaikan pada kalender hijriyah, yaitu jatuh pada
Bulan Ramadhan. Yang mana bulan tersebut bulan ke sembilan identik dengan seseorang yang kembali fitrah suci setelah berpuasa, bagai bayi yang berada sembilan bulan dalam rahim dan baru lahir ke dunia ini tanpa dosa. Dan banyak lagi fakta yang penting dijelaskan
dan dipelajari hikmahnya oleh para pelajar terkait kejadian penting bangsa ini.
Sungguh terasa
deislamisasi penulisan yang dulu diterapkan oleh para penulis sejarah dewasa
ini. Akankah kita membiarkan mereka belajar hanya untuk lulus ujian? Tanpa transformasi
ilmu yang mendalam dengan segala esensi ilmu tersebut. Marilah kita kembali
menelaah sejarah dengan melepas kepentingan-kepentingan golongan yang mengikis
objektivitas suatu informasi, mempelajari sejarah dengan benar berarti membantu
generasi selanjutnya mengumpulkan puing-puing kebesaran bangsa. Sejarah ngaca sejarah

0 komentar:
Posting Komentar