8 Oktober 2012

Apa Arti Sebuah Mata





Selalu jika saya dan bapak lagi nonton bola bareng, kita ga pernah duduk bersebelahan. Bukan karena apa-apa, tapi karena bapak punya mata yang plus dan saya minus, jadi saya deket-deket TV dan bapak dari jauh, karena jika menonton dari jauh saya malah meyempitkan pupil mata. Wiseword “like father like son” ga sepenuhnya bekerja di situasi ini hehe.

Tapi ada sisi lain dalam filosofi penyakit mata ini. Bila kita memandang sesuatu lebih jelas dari jauh daripada kita lebih dekat berarti kita mengidap penyakit plus (+). Oke, plus yang dapat kita analogikan dalam kehidupan ini adalah bahwa kita lebih objektif menilai sesuatu bila kita tidak terlalu dekat dengan objek masalah dan sasaran objek.

Mari kita simak, ketika seorang aktivis dengan segala semangatnya membara, atau tokoh-tokoh pengamat  kebijakan mengkritisi habis-habisan alur langkah gerak pemerintahan dengan offensive dan tajam.  Lalu terdiam, setelah diberi pangkat dan jabatan.

Mari kita renungkan, ketika ada seseorang yang bukan siapa-siapa bukan orang yang sangat dekat dengan kita, dengan spontan menegur perilaku kita yang tidak baik. Mereka tidak tahu latar belakang kita, kebiasaan dan norma-norma dianggap khalayak sebagai sesuatu yang lumrah dan dimaklumi. Tapi kepolosan dan keobjektivitasan itu pun muncul dari seseorang yang jauh, ya seorang yang bukan orang yang kita kenal dekat, ketika itu sang penegur tersebut memakai kekurangannya dan menjadikannya objektif ya itu adalah mata plus yang objektif.

Jika pepatah kuman di seberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tak tampak masih diajarkan di SD-SD dengan semangat. Maka ketika mereka beranjak dewasa kelak, akan selalu legowo menerima omongan-omongan orang tentang dirinya baik kritik, pujian, cemoohan dengan rasa sadar betul bahwa kita manusia yang diciptakan dengan sempurna karena ketidaksempurnaannya.

Mari kita hargai kekurangan mata kita dan membiarkan mata orang lain membantu menutupi kekurangan mata kita, sebuah nilai kehidupan yang sangat realistis dan menolak untuk menutupi diri dari kenyataan. Karena hanya orang-orang yang tidak realistis yang meninginkan realitas hidup mengikuti suara hatinya sendiri. Itulah kenapa ada baik dan buruk juga plus minus. Mari ke dokter J



0 komentar:

Posting Komentar