Selalu jika saya
dan bapak lagi nonton bola bareng, kita ga pernah duduk bersebelahan. Bukan
karena apa-apa, tapi karena bapak punya mata yang plus dan saya minus, jadi
saya deket-deket TV dan bapak dari jauh, karena jika menonton dari jauh saya malah
meyempitkan pupil mata. Wiseword “like father like son” ga sepenuhnya bekerja
di situasi ini hehe.
Tapi ada sisi
lain dalam filosofi penyakit mata ini. Bila kita memandang sesuatu lebih jelas
dari jauh daripada kita lebih dekat berarti kita mengidap penyakit plus (+).
Oke, plus yang dapat kita analogikan dalam kehidupan ini adalah bahwa kita
lebih objektif menilai sesuatu bila kita tidak terlalu dekat dengan objek
masalah dan sasaran objek.
Mari kita simak,
ketika seorang aktivis dengan segala semangatnya membara, atau tokoh-tokoh pengamat
kebijakan mengkritisi habis-habisan alur
langkah gerak pemerintahan dengan offensive dan tajam. Lalu terdiam, setelah diberi pangkat dan
jabatan.
Mari kita
renungkan, ketika ada seseorang yang bukan siapa-siapa bukan orang yang sangat
dekat dengan kita, dengan spontan menegur perilaku kita yang tidak baik. Mereka
tidak tahu latar belakang kita, kebiasaan dan norma-norma dianggap khalayak
sebagai sesuatu yang lumrah dan dimaklumi. Tapi kepolosan dan keobjektivitasan
itu pun muncul dari seseorang yang jauh, ya seorang yang bukan orang yang kita
kenal dekat, ketika itu sang penegur tersebut memakai kekurangannya dan
menjadikannya objektif ya itu adalah mata plus yang objektif.
Jika pepatah
kuman di seberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tak tampak masih
diajarkan di SD-SD dengan semangat. Maka ketika mereka beranjak dewasa kelak,
akan selalu legowo menerima omongan-omongan orang tentang dirinya baik kritik,
pujian, cemoohan dengan rasa sadar betul bahwa kita manusia yang diciptakan
dengan sempurna karena ketidaksempurnaannya.
Mari kita hargai
kekurangan mata kita dan membiarkan mata orang lain membantu menutupi kekurangan
mata kita, sebuah nilai kehidupan yang sangat realistis dan menolak untuk
menutupi diri dari kenyataan. Karena hanya orang-orang yang tidak realistis
yang meninginkan realitas hidup mengikuti suara hatinya sendiri. Itulah kenapa
ada baik dan buruk juga plus minus. Mari ke dokter J

0 komentar:
Posting Komentar