Mungkin Sang
Pencipta dulu memikirkan kata ini sebelum menciptakan manusia. Ketika sang
penghuni langit seluruhnya stagnan, flat dan tidak ada deviasi pemberontakan
yang terlalu kepada-Nya. Malaikat nanya-nanya kenapa masih nyiptain makhluk
yang nantinya akan berpotensi membuat kerusakan, saling membunuh satu sama
lain, menumpahkan darah dan berbagai spekulasi dari sisi seorang makhluk yang
kuota hidupnya memang hanya untuk bertasbih memuji kepada-Nya. Atau sang iblis
yang sombong dan mengklaim dirinya yang terhebat dari makhluk yang akan
diciptakan ini. Singgasana langit sana bagai keadaan negeri utarakuro yang
dinyatakan Soekarno dalam pidatonya, mungkin kira-kira begitu.
Tak ada yang
istimewa selain anugerah yang diberikan Sang Pencipta kepada makhluk yang satu
ini selain “peluang sebesar-besarnya untuk memilih” kesempatan untuk menentukan
arah, sikap dan perilakunya. Dia tahu benar bahwa makhluk ini bisa lebih tinggi
derajatnya dari malaikat yang tiap detik bertasbih beribadah pada-Nya atau bisa
lebih bejat dan amat sangat rendah derajatnya dari hewan atau iblis sekalipun.
Ini semua karena
Dia mungkin memuliakan manusia di atas makhluk yang lain dengan perbandingan.
Adanya nafsu yang menjadi sesuatu yang harus ditahan dan dikuasai sepenuhnya
oleh hati, tidak seperti makhluk lain yang memang tidak diuji dengan “adanya
rasa nafsu tersebut”.
Perbandingan itu
adalah proses pembelajaran, proses dimana kita semakin kecil melihat sesuatunya.
Ketika kita semakin banyak tahu, semakin banyak mengenal keanekaragaman ras,
suku, agama, bahasa dan seabreg budaya yang dikemas apik sebagai pengetahuan
baru dan memaksa bibir kita membuat bulatan dan mengeluarkan kata oooo.
Sejenak, mari
kita ngaji lagi beberapa reason penciptaan yang menitik beratkan pada sebuah
kalimat “Inna khalaqnakum ……. Litaaarofuuuu” agar kalian saling
mengenal, agar kalian saling mengetahui, agar kalian saling berbagi satu sama
lain, agar kalian bisa belajar banyak dari perbedaan dan perbandingan tersebut.
Great, belajar dan ambil hikmah dari apa dan siapa saja.
Maka yang masih
mengklaim dirinya, golongannya, kelompoknya, gengnya paling benar, paling
excellent, paling bagus dan paling-paling lainnya. Atau ajeg dalam urusan
social bahwa apa yang dilakukan secara terus menerus tak lekang oleh waktu dan
tak boleh ada intervensi apapun, yang biasa disebut sebagai masyarakat yang
statis. Silahkan komparasikan sesuatu yang anda keukeuh dengannya dengan yang lain, sehingga otak anda lebih sehat
dan lebih terbuka, jantung pun begitu. Coba tanya dokter. :)
Tidak habis satu
postingan untuk ngomongin perbandingan sebenernya, tapi saya harap yang mbaca
tulisan ini agak ngerti dikit-dikit akan pesan yang saya utarakan. Sekolah
hanya tempat, kampus juga begitu, yang benar itu belajar, ya belajar dari
manusia, hewan, tanaman dan semesta. Lalu kita berpikir, merenung, bahwa ilmu
itu seperti air garam yang makin kita minum, kita pun makin haus.
Selamat mencari perbandingan dan semoga semakin sehat. :)

0 komentar:
Posting Komentar