2 November 2012

Alangkah Rapuhnya Hidup Ini





Untukmu yang telah pergi meninggalkan raganya, panggilan yang tak seorang pun tahu kapan ia mampir tanpa pamrih mengajak pergi dari dunia ini. Selamat jalan kawan, jiwamu tak pernah mati dan doa kami selalu menyertaimu.

Senyum di jumat pagi ini tidak kusangka adalah senyuman terakhirnya. Awalnya biasa saja, kita hanya bermain, bermain futsal seperti minggu-minggu sebelumnya, untuk menghilangkan penat dari ujian yang menggerayangi otak ini dan membuat lelah.

 Semuanya itu dimulai pada jam 08.00 pagi di lapangan YPKP,  lapangan yang kini menjadi sebuah memoriam bagi kami tentang seseorang. Daimul

Kami bertigabelas jika saya tidak salah hitung, seluruhnya bermain bergantian lima lawan lima, selamat bagi yang jago dan bisa menggolkan dua kali kegawang musuhnya dan dia akan tetap bermain. Jam menunjukkan pukul 08.30 ketika dia masih saja menjadi penjaga gawang walau berbeda tim, kami bermain seperti biasa, ya seperti biasa, tidak ada tanda-tanda pucat dan sesuatu yang menjelaskan alasan kenapa seseorang bisa dikatakan tidak sehat, hingga tiba saat seorang memanggilnya untuk diganti oleh yang lain, langkahnya ke luar lapangan itu menjadi langkahnya yang terakhir....

Kakiknya sudah tak kuasa menahan bobot badan yang tidak terkontrol, sempoyongan, benturan cukup keras mengenai wajah depan ia pun jatuh ke depan. Geraknya seperti seseorang yang tersandung batu, atau anak kecil yang baru belajar berjalan dan jatuh.

Suasana panik, mendadak kami bersama membopongnya ke arah luar lapangan memikirkan klinik rumah sakit, atau yang lainnya, tempat apapun yang bisa menolong teman kami yang sedang berada diantara hidup dan mati.

Dua menit berselang ketika ada seseorang pengunjung lapangan tersebut menawarkan mobilnya untuk siap membawa teman kami, tak terpikirkan sebuah tempat pun yang bisa saya tuju selain rumah sakit terdekat dari situ, RS Santo Yusuf, karena sudah habis kesabaran saya dengan lagak penjaga parkir yang tidak tahu arti kata “darurat”.

Setelah membaringkannya di tengah kursi mobil terlentang, semua sirkulasi udara mobil dibuka, semoga angin ini angin baik, sabarlah kawan bertahanlah, kita akan berusaha untuk mencari bantuan ... kataku dalam hati

Double lampu sen mobil saya tekan dengan gemetar, alunan tangan tak karuan keluar dari jendela untuk memberhentikan mobil yang lalu lalang kulakukan, saya hanya ingin dunia ini berhenti sesaat selain mobil ini. Berhentilah !!!

Lima menit berselang, setelah kami bertiga sampai di RS Santo Yusuf, UGD UGD !!! PA DARURAT !!! lima satpam bergegas mencarikan pendorong khusus dan mengeluarkannya dari mobil, bergegas sampai ke dalam ruang, dengan nafas yang kembang kempis mencari siapapun didalam ruang itu,

Dok, tolong teman kami mendadak pingsan ketika bermain futsal, dia main sekitar setengah jam, lalu sempoyongan dan jatuh, mulutnya mengeluarkan busa. Berbagai penjelasan kulontarkan untuk mencoba membantu sang dokter untuk mengambil sikap, sekarang kita serahkan padamu dok, sebagai penyambung takdir-Nya.

Secepatnya ruang operasi dibuka, alat kejut dan kabel yang terhubung di dadanya,  disamping petugas rumah sakit menanyakan pertanyaan-pertanyaan Anda siapa? Saya temannya, keluarganya ada? Nomor telp yang bisa dihubungi? ... Saya pun berdiri disampingnya hanya memandang dan berharap dengan segenap doa,  tapi itu hanya beberapa menit saja, operasi pun selesai dan dengan hempaan nafas dan tatapan yang tajam.

Maaf, teman anda sudah tidak ada ... ini seperti kasus alm adji masaid, ini serangan jantung mendadak. Seringkali terjadi ketika olahraga.
...................................
...................................
..................................
Aku pun terdiam .... dengan kucuran air mata tak percaya, aku hanya ingin menyahadatkanmu untuk terakhir kawan, berdiri disamping raganya yang tak berjiwa sekarang.

Tak lama berselang, teman-teman yang tadi bermain bersama sampai ke RS, Insan yang pertama, yang sibuk mencarikan nomor telepon keluarganya dan bantuan teman yang lain, hingga kakaknya datang untuk memastikan keresahan, sebuah realitas yang harus diterima bahwa adiknya telah wafat.

Lalu ibunya pun datang dengan mencoba untuk bersabar dan ikhlas, mengingat senyum anaknya yang telah membiru dan menjadi kaku. Terisak tangis yang mendalam sambil mengelus ngelus terus kakiknya, aku pun ingin memeluknya, andaikan aku perempuan.

“Padahal tanggal dua empat kemarin dia baru saja berulang tahun”, dari percakapan saya dengan sang ibu, almarhum adalah sosok yang sholeh, baik dan selalu ceria. Kenapa kamu tidak pamit nak ... ibunya terus menangis tersedu ..

Akhirnya sambil menunggu jemputan saudaranya, kami pun berdoa untuk terakhir kalinya di ruang jenazah,  menyalami tangannya dan mencoba membesarkan hati sang ibu yang telah membesarkan teman kami ini, maaf bu ini mungkin takdir tapi kami telanjur larut dalam ikhtiarnya.

Sebagian tinggal dan menemani sang ibu, dan sebagian dari kami pergi ke masjid untuk minta kepada imam untuk disolat ghoibkan, maaf teman, hanya doa yang bisa kami lakukan untuk sekarang. Mungkin jiwamu telah tiada tapi namamu akan selalu menjadi  bagian dari memoriam hidup kami sekalian, juga sebagai pengingat  ........ bahwa hidup ini sangat rapuh.






Read More - Alangkah Rapuhnya Hidup Ini

26 Oktober 2012

Jumroh? Anak Kecil Juga Bisa



Horee syukur Alhamdulillah dapat merasakan idul adha untuk kesekian kalinya, sms-sms tentang puasa arafah, tabligh akbar bertemakan pengorbanan, orasi khotib-khotib tentang cerita nabi Ibrahim dan updatean status-status tentang nyate dan masakan bertemakan daging lainnya menyertai hari ini. :) 

Setelah sholat ied saya pun nimbrung makan yang belum bertema, kemudian mantengin TV yang menyiarkan sebuah ritual ibadah yang luar biasa. Ibadah haji.

Di tanah suci sana sekitar lima juta orang sedang mengamalkan rukun islam yang terakhir dengan berbagai niatan mereka dan dengan pengalaman kunjungan ke tanah suci yang berbeda-beda, ada yang sekali, dua kali dst. Menurut kompas ada 125.126 jamaah haji Indonesia untuk tahun ini, mereka yang masuk dalam kategori mampu, sabar dan satu lagi beruntung.

Mungkin pernah dengar, seseorang yang secara finansial ndak mungkin bisa haji, dengan ridho Allah ternyata bisa, “wa anna sa’yahu saufo yuro”. Mereka yang sepertinya akan bilang: “untuk saya satu kali saja cukup, itu sudah buat saya amat sangat bersyukur”. Hatinya udah mabrur.

Diantara total ratusan ribu jamaah pun ada juga yang aji mumpung, mumpung deket ama kemenag, pejabat atau oknum pengurus ibadah tersebut. Semuanya bertujuan “mabrur” diterima oleh Allah ibadahnya.

Tapi diantara hikmah yang saya ambil dari beberapa hal tentang pelajaran agama adalah islam mengenal konsekuensi. Ketika kita dahulunya hafal qur’an lalu hilang karena tak pernah diulang lagi, lebih berat konsekuensinya dari yang memang ndak ngafalin. Sama, untuk mabrur ini juga, mereka yang pulang kembali ke tanah air, juga harusnya mengerjakan konsekuensi tersebut, sebagai insan yang lebih unggul dalam pengamalan jumlah rukun islam diantara yang lainnya. Sepertinya kategori mabrur ndak cukup keluar nilainya setelah tahalul, atau seperti berbukanya orang puasa, setelah semua rukun selesai dijalankan lalu selesai. Tapi dampaknya apa minimal bagi yang menjalankan, umumnya bagi masyarakat di sekitarnya.

Kini waiting list haji lima tahun kalo ndak salah, tak terbayang jika itu kita analogikan dengan antrian di dalam bank, amat sangat panjang sekali. Tapi mereka yang menunggu itu pasti amat sangat sabar sekali, minimal niatnya. Tolong yang nitip dan memperkecil kuota, agaknya mikir-mikir lagi.

Kita doakan semoga ndak ada ibadah itu jadi lifestyle seperti fashionnya artis-artis, hanya pulang pergi tanpa bekas, sudah lebih dari sekali haji namun kelakuannya ndak jelas. Bangsa ini sepertinya ga butuh banyak-banyak orang yang make huruf “H” nya karena kepentingan, biarlah titel itu dipanggil oleh orang dengan kepantasan.

Semoga selamat pa, bu jamaah haji, kalian udah ditunggu ama sanak family dan masyarakat di bandara. Jangan kecewakan mereka atas harapan bahwa seorang haji memiliki nilai lebih diantara yang lainnya. Karena kalo cuma lempar jumroh anak kecil juga bisa.

Btw, selamat idul adha silahkan beli areng dan ngipas-ngipas daging. J



Read More - Jumroh? Anak Kecil Juga Bisa

9 Oktober 2012

Perbandingan





Mungkin Sang Pencipta dulu memikirkan kata ini sebelum menciptakan manusia. Ketika sang penghuni langit seluruhnya stagnan, flat dan tidak ada deviasi pemberontakan yang terlalu kepada-Nya. Malaikat nanya-nanya kenapa masih nyiptain makhluk yang nantinya akan berpotensi membuat kerusakan, saling membunuh satu sama lain, menumpahkan darah dan berbagai spekulasi dari sisi seorang makhluk yang kuota hidupnya memang hanya untuk bertasbih memuji kepada-Nya. Atau sang iblis yang sombong dan mengklaim dirinya yang terhebat dari makhluk yang akan diciptakan ini. Singgasana langit sana bagai keadaan negeri utarakuro yang dinyatakan Soekarno dalam pidatonya, mungkin kira-kira begitu.

Tak ada yang istimewa selain anugerah yang diberikan Sang Pencipta kepada makhluk yang satu ini selain “peluang sebesar-besarnya untuk memilih” kesempatan untuk menentukan arah, sikap dan perilakunya. Dia tahu benar bahwa makhluk ini bisa lebih tinggi derajatnya dari malaikat yang tiap detik bertasbih beribadah pada-Nya atau bisa lebih bejat dan amat sangat rendah derajatnya dari hewan atau iblis sekalipun. 

Ini semua karena Dia mungkin memuliakan manusia di atas makhluk yang lain dengan perbandingan. Adanya nafsu yang menjadi sesuatu yang harus ditahan dan dikuasai sepenuhnya oleh hati, tidak seperti makhluk lain yang memang tidak diuji dengan “adanya rasa nafsu  tersebut”.

Perbandingan itu adalah proses pembelajaran, proses dimana kita semakin kecil melihat sesuatunya. Ketika kita semakin banyak tahu, semakin banyak mengenal keanekaragaman ras, suku, agama, bahasa dan seabreg budaya yang dikemas apik sebagai pengetahuan baru dan memaksa bibir kita membuat bulatan dan mengeluarkan kata oooo. 

Sejenak, mari kita ngaji lagi beberapa reason penciptaan yang menitik beratkan pada sebuah kalimat “Inna khalaqnakum …….  Litaaarofuuuu” agar kalian saling mengenal, agar kalian saling mengetahui, agar kalian saling berbagi satu sama lain, agar kalian bisa belajar banyak dari perbedaan dan perbandingan tersebut. Great, belajar dan ambil hikmah dari apa dan siapa saja. 

Maka yang masih mengklaim dirinya, golongannya, kelompoknya, gengnya paling benar, paling excellent, paling bagus dan paling-paling lainnya. Atau ajeg dalam urusan social bahwa apa yang dilakukan secara terus menerus tak lekang oleh waktu dan tak boleh ada intervensi apapun, yang biasa disebut sebagai masyarakat yang statis. Silahkan komparasikan sesuatu yang anda keukeuh dengannya dengan yang lain, sehingga otak anda lebih sehat dan lebih terbuka, jantung pun begitu. Coba tanya dokter. :)

Tidak habis satu postingan untuk ngomongin perbandingan sebenernya, tapi saya harap yang mbaca tulisan ini agak ngerti dikit-dikit akan pesan yang saya utarakan. Sekolah hanya tempat, kampus juga begitu, yang benar itu belajar, ya belajar dari manusia, hewan, tanaman dan semesta. Lalu kita berpikir, merenung, bahwa ilmu itu seperti air garam yang makin kita minum, kita pun makin haus.

Selamat mencari perbandingan dan semoga semakin sehat. :)
Read More - Perbandingan

8 Oktober 2012

Apa Arti Sebuah Mata





Selalu jika saya dan bapak lagi nonton bola bareng, kita ga pernah duduk bersebelahan. Bukan karena apa-apa, tapi karena bapak punya mata yang plus dan saya minus, jadi saya deket-deket TV dan bapak dari jauh, karena jika menonton dari jauh saya malah meyempitkan pupil mata. Wiseword “like father like son” ga sepenuhnya bekerja di situasi ini hehe.

Tapi ada sisi lain dalam filosofi penyakit mata ini. Bila kita memandang sesuatu lebih jelas dari jauh daripada kita lebih dekat berarti kita mengidap penyakit plus (+). Oke, plus yang dapat kita analogikan dalam kehidupan ini adalah bahwa kita lebih objektif menilai sesuatu bila kita tidak terlalu dekat dengan objek masalah dan sasaran objek.

Mari kita simak, ketika seorang aktivis dengan segala semangatnya membara, atau tokoh-tokoh pengamat  kebijakan mengkritisi habis-habisan alur langkah gerak pemerintahan dengan offensive dan tajam.  Lalu terdiam, setelah diberi pangkat dan jabatan.

Mari kita renungkan, ketika ada seseorang yang bukan siapa-siapa bukan orang yang sangat dekat dengan kita, dengan spontan menegur perilaku kita yang tidak baik. Mereka tidak tahu latar belakang kita, kebiasaan dan norma-norma dianggap khalayak sebagai sesuatu yang lumrah dan dimaklumi. Tapi kepolosan dan keobjektivitasan itu pun muncul dari seseorang yang jauh, ya seorang yang bukan orang yang kita kenal dekat, ketika itu sang penegur tersebut memakai kekurangannya dan menjadikannya objektif ya itu adalah mata plus yang objektif.

Jika pepatah kuman di seberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tak tampak masih diajarkan di SD-SD dengan semangat. Maka ketika mereka beranjak dewasa kelak, akan selalu legowo menerima omongan-omongan orang tentang dirinya baik kritik, pujian, cemoohan dengan rasa sadar betul bahwa kita manusia yang diciptakan dengan sempurna karena ketidaksempurnaannya.

Mari kita hargai kekurangan mata kita dan membiarkan mata orang lain membantu menutupi kekurangan mata kita, sebuah nilai kehidupan yang sangat realistis dan menolak untuk menutupi diri dari kenyataan. Karena hanya orang-orang yang tidak realistis yang meninginkan realitas hidup mengikuti suara hatinya sendiri. Itulah kenapa ada baik dan buruk juga plus minus. Mari ke dokter J



Read More - Apa Arti Sebuah Mata

22 Agustus 2012

Ideal Fitri




Masih selalu menggerayangi kuping kita pada waktu bulan Ramadhan adalah “Yaayyuhalladzina aamanu kutiba …dst” pasti udah hafal.

Namun, gejala-gejala selesai ramadhan dan masuknya bulan baru mulai tampak, ketika para polisi berjamaah bondong2 ngamanin jalan buat posko, yang mana poskonya lebih banyak dari jumlah restoran padang, arus mudik.

Mudik atau asal katanya udik atau pulang kampung ini mulai menjadi trend di Indonesia setelah zaman penjajahan, karena prespektifnya berubah dahulu pulang kampung itu malah tidak aman, sekarang? Justru ramai-ramai pulang basamo J

Akhirnya dalil yang ngetrend pun berubah :)

" MAN SARROHU AIYUBSATHO, 'ALAIHI RIZQUHU AW YUNSA, A  FII ASARIHI  FALYASIL ROHIMAHU "

Rosullulloh Bersabda:

" Barang siapa yang Rizqinya ingin di mudahkan oleh Alloh swt atau ingin usianya Berkah dan lama, maka hendaklah dia menghubungkan tali silaturrahmi "( Hadits Riwayat Imam Muslim )

Ok, jika kita belajar logika bumi ini bagaikan kalkulasi matematis silaturrahim = dimudahkan Allah + usianya panjang dan berkah. Mirip dengan a= b + c atau persamaan lainnya dalam matematika

Sekali lagi bahwa kita hanya membumikan logika langit tersebut itu sepanjang limit logika kita bermain, jika kita ga pake ilmu tasawuf atau aliran tarekat, rasio yang sederhana justru lebih mudah untuk dicerna, memahamkan dan menggerakan perilaku positif, that’s the point

Silaturrahim, menenun kembali rajutan hubungan kekerabatan dan kekeluargaan yang terasa kabur karena kesibukan individu masing-masing selama satu tahun kebelakang. Diikat dan diperkuat caranya? Saling berkomunikasi via dunia maya ataupun dunia asli asal jangan dunia lain J Wajar, karena manusia makhluk sosial.

Inti dari seluruhnya ngumpul dan berbagi, saling memberikan apa yang dipunya dan saling menerima apa adanya. Indahnya berbagi, sebelumnya ada kutipan cerita menarik dari salah satu rockstar saya pa muhaimin iqbal @geraidinar

Dalam cerita rakyat Yunani kuno dikisahkan suatu hari tiga orang prajurit singgah di perkampungan yang 
miskin akibat korban perang. Dalam kondisi letih dan lapar mereka sebenarnya berharap ada salah satu dari masyarakat desa tersebut yang bisa memberinya tumpangan untuk isitirahat dan sedikit makanan. Alih-alih mendapatkan pertolongan, yang ada masyarakt desa malah berkeluh kesah tentang problem mereka, kerusakan desa, gagal panennya dan kemiskinan yang melanda. Maka tiga prajurit yang gagah berani ini terpanggil untuk memberi solusi bagi desa yang kehilangan kepemimpinan tersebut

Dikumpulkannya masyarakat desa dengan woro-woro bahwa para prajurit yang datang ke desa itu akan mengajari masyarakat untuk membuat sop dari batu. Siapa yang tidak tertarik ?, kalau batu saja bisa jadi sop – pasti desa itu tidak lagi ada problem pangan – pikir mereka.

Setelah masyarakat ngumpul, mulailah para prajurit ini mangajak masyarakat untuk mengumpulkan kayu bakar dan membuat api unggun besar. Mereka juga minta disediakan kwali yang paling besar yang ada di desa itu agar semua kebagian sup batu yang akan mulai dimasak. Untuk batunya sendiri tidak perlu banyak, cukup tiga batu ukuran kecil.

Dengan penasaran masyarakat menyaksikan air yang mulai mendidih di kwali besar, mereka juga mengamati tiga prajurit yang membagi tiga batu kecil tersebut satu per satu diantara mereka bertiga.

Prajurit pertama mulai memasukkan batunya ke kwali sambil berkata “…nggak usah kawatir, ini akan menjadi sup yang enak…”.  Prajurit kedua mengikuti “…ini akan cukup untuk semua yang hadir disini…”. Prajurit ketiga-pun mengikutinya ambil berkata : “…akan tambah enak bila ada yang nambahi garam, kubis atau sejenisnya”.

Tiba-tiba diantara masyarakat yang hadir ada yang nyletuk : “ oh iya, di rumah saya ada garam…”, kemudian berlari dia mengambil garamnya. Yang lain ikutan : “…saya masih ada sedikit kubis di rumah…”, berlari pula dia mengambilnya. Yang lain tidak mau kalah, ada yang berlari mengambil wortel, lobak dan lain sebagainya.

Walhasil malam itu mereka berhasil memasak ‘sop batu’ dengan berbagai tambahannya yang lezat-lezat. Jumlahnya cukup banyak untuk berbagi ke seluruh yang hadir - Tentu saja tiga batu kecil yang dimasukan pertama ke kwali tidak perlu ikut dimakan !. Mereka makan kenyang malam itu dan tiga orang prajurit ini tidur kelelahan di tanah lapang desa itu.

Paginya mereka dibangunkan oleh suara ramai; rupanya masyarakat desa pagi itu kembali ke lapangan dengan membawa berbagai makanannya, ada roti, selai, keju dlsb.

Kepada tiga prajurit yang baru bangun tersebut, mereka menyampaikan : “ ….kami berterima kasih kepada Anda yang telah mengajari kami untuk berbagi, milik kami yang serba sedikit tidak cukup untuk kami sendiri…tetapi ternyata malah menjadi cukup ketika kita berbagi…”. Sejak peristiwa ‘sop batu’ tersebut masyarakat desa menjalani hidup dengan terus saling berbagi.

See? Berbagi adalah inti dari kehidupan, matahari berbagi sinarnya, bulan berbagi dengan memantulkan atau menyedekahkan apa yang dia dapat dari matahari. Bumi berbagi sinar tersebut tapi tidak secara spontan, diayak dulu oleh lapisan ozon sehingga baik bagi seluruh makhluk yang ada di bumi ini. Seluruhnya bersedekah, memberi dan berbagi.

Indonesia jika kita kaji khususnya pulau Jawa. Luas  areanya hanya sepertiga Jepang atau separuh dari Inggris ini, dihuni oleh penduduk yang jumlahnya lebih besar dari seluruh penduduk Jepang dan kurang lebih dua kali penduduk Inggris. Dari 242 negara yang ada di dunia, hanya ada 9 negara yang penduduknya melebihi pulau Jawa !. Hanya China, India, Amerika, Indonesia, Brazil, Pakistan, Nigeria, Bangladesh dan Russia yang penduduknya melebihi jumlah penduduk Jawa. Sebanyak 233 negara di dunia masing-masing penduduknya kurang dari penduduk pulau Jawa.

Di Indonesia sendiri, Jawa hanyalah daratan yang luasnya tidak lebih dari 6.5 % luas daratan Indonesia. Tetapi daratan yang kecil ini dihuni oleh sekitar 57 % dari penduduk Indonesia.

Ya disanalah kita hidup di Indonesia, saya khususnya di pulau Jawa. Mimpi akan berbagi yang hakiki seperti layaknya masyarakat di cerita tersebut. Kemisikinan dan tolak ukur kesejahteraan lainnya dapat dicapai dengan kebijakan dari para ksatria tersebut, Jika rakyat Indonesia sering ngumpul, sering berbagi dan punya semangat bangkit bersama, ini baru dinamakan ideal fitri, sekian, wslm


Read More - Ideal Fitri

13 Juli 2012

The Amazing Moslem


Hari itu kita mau nonton bareng salah satu film yang ditunggu-tunggu banget ama pencinta film adaptasi komik marvel yap “The Amazing Spiderman”

Film tentang manusia yang kegigit laba-laba super iseng ini bener-bener buat kita amat “excited” untuk ngumpul dan pergi bareng-bareng. Saya pun nebeng ama seorang temen yang bawa mobil bersama temen-temen lain.  Kita berangkat pukul 17.00 dari kampus menuju PVJ, mobil pun melaju

Kalo diitung dengan perkiraan laju kecepatan mobil waktu itu dengan kalkulasi probabilitas jelas kita akan ga sampai TKP tepat waktu. Dahsyatnya macet yang ga abis sepanjang mata memandang semakin membuat kita yang ada dalem mobil cemas, resah,  kita kayaknya ga sudi bener walau semenit pun buat nonton ini film, sedangkan filmnya mulai 18.10 an, mengisi waktu kepastian keterlambatan kita nonton, akhirnya kita obrolin hal-hal konyol sepanjang perjalanan tentang film ini … (spiderman gimana napasnya, spiderman kenapa ga kuliahnya ekonomi dll lah yang amat ga nyambung)

Akhirnya apa daya begitu mobil mendarat selesai, buru-buru keluar jalan cepet yang maksa lari lari nyari mushola, sepakat kalo kita ga dalem perjalanan, jadi ga ada ceritanya masa solat sambil duduk di kursi bioskop :D, tapi saya nemuin satu fenomena; yaitu “mushola di mall atau pusat perbelanjaan sangat sempit, tidak sebanding dengan jamaah yang mau solat” ditambah keran wudhu yang cuma satu buah juga shaf solat bagi laki-laki yang cma muat untuk satu shaf, ga keurusnya lantai musola sampai setengah dari musola becek…... Tapi saya ga terlalu peduli yang penting sekarang nonton dulu nonton nonton spiderman I am coming, sambil tangan ngebentuk lipetan jari spiderman kalo ngeluarin jarring …. Andai andai ….

Kitapun tergesa-gesa berjalan setengah lari, mirip orang kebelet ya gitulah mirip. “tangga mana tangga !!!” fiuh saya pun ngelirik jam, okey jam 18.30, wah ini peter parker kayaknya udah demam nih abis kena gigit, eh mungkin dia udah jadi kuat dll (berbagai bayangan tentang film dibuat sendiri buat memvisualisasikan diri yang telat sekitar 30 menit itu)

Kita pun masuk, pasang kacamata duduk manis dan nonton ….. (waktupun berjalan)

Hingga akhirnya kita liat ampe selesai tuh film dengan puas walau hanya 80-90 persentase nya, tapi ga papa, dan kegalauan atas apa yang terjadi hari ini  pun buat saya mikir tentang beberapa hal, yang patut direnungkan ………… .. pake hati

-     Lewat beberapa menit aja buat nonton kayaknya rasa kecewanya lebih gede daripada ngulur waktu solat di hari-hari biasa

-     Giliran ada kotak sedekah di tempat-tempat ibadah susah banget ngeluarin uang Rp 30.000 tapi buat film amazing spiderman ga usah lama mikirnya

-       Orang-orang yang dateng ke pusat perbelanjaan ini ribuan tapi mushola waktu maghrib masih aja kosong

-    Space buat solat di musola di situ amat kecil mungkin hanya muat 8-10 orang, tapi yang imam bacaannya lumayan lama, apa ga mikir yang nunggu mau solat banyak?

-       Luas mushola tidak lebih besar daripada luas outlet yang ada di sekitarnya bahkan mungkin jarang luas outlet sebesar musola

Mungkin dari temen-temen ada yang pernah ngerasain kejadian kayak gini, ngerasa atau enggak seenggaknya kita udah ngegeser posisi prioritas wajib yang jelas-jelas panggilan untuk ibadah sama hal-hal mubah dunia, fiuh kita nih manusia ga diciptain kecuali untuk ibadah kepada Sang Khalik

Ad-Dzariyat 56
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ 
 
“ dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Mungkin karena iman deviasi nya masih terlalu tinggi, up and down terlalu jauh. Seketika getol banget ibadah seketika pula ngulur-ngulur juga buat ngerjainnya, wajar namanya juga manusia, tapi ga wajar kalo kita ngulang-ngulang hal yang sama dan kita tahu kalo kita itu salah. 

Fiuh … selama kuota umur masih ada, masa kita ga nambah lebih baek tiap harinya….. Innamal a’malu binniyat (segala sesuatu itu tergantung pada niatnya) nah, sekarang niatnya mau berubah ga? Jadi The Amazing Moslem :D


Read More - The Amazing Moslem