Setiap sholat subuh di masjid dekat rumah saya, bila sedang tidak ngantuk banget, sudah pasti saya mampir ke ibu penjual surabi. Penjual surabi yang memecahkan keheningan subuh dengan nyala api dari minyak tanah, sudah stand by sejak jam setengah lima. Waktu dimana orang-orang kebanyakan lelap dalam tidurnya, ibu itu sudah gelar lapak. Adzan baginya adalah lampu hijau untuk mengais rezeki.
Saya sudah jadi langganan tetap surabi itu sejak kecil sebelum SD, saat masih digandeng oleh bapak ke mesjid subuh hari, masih pergi ke mesjid ngantuk-ngantuk diseret-diseret, masalah sholat atau enggak ntar yang penting kalo adzan subuh harus bangun, hingga kini ibu itu masih setia dengan tempat pencetakan kue surabinya yang makin lama makin sedikit, dulu seingat saya dia punya lima pencetakan kue surabi sekarang tinggal tiga.
Ada lagi sang legenda penjual nasi goring terlaris se-binong yang pengalaman jadi tukang nasi gorengnya melebihi usia saya, dulu pada masa awalnya ia berjualan, tanah binong ini masih rawa, masih banyak hutannya, sekarang sudah jadi rumah semua, bahkan sentra rajut, tapi dia konsisten nasi gorengnya tidak pernah sepi dari maghrib hingga larut malam, rasanya sungguh berbeda dari semua nasi goreng yang lain yang saya pernah cicipi, ini beda bumbunya lebih terasa, digoreng dengan areng ndak pake kompor gas, dikipasin areng nya bernyala nyala panas meresap dan menimbulkan cita rasa itu sendiri. Buat saya “the best fried rice ever” ya ini. Hingga kini Mang Ojo masih setia menemani predator nasgor malam yang perutnya sering keroncongan, termasuk saya.
Yang terakhir adalah sang penjual lontong kari, usia penjualnya sudah udzur, rambutnya sudah hampir sedikit yang hitam selalu memakai kupluk dan tidak cara berjualannya move on, tidak didorong pake gerobak tapi dengan memikul tempat lontongnya. Harganya murah Rp 3000,00 saja itu sudah porsi biasa, bisa lebih, kuantitas lontongnya banyak kualitas resep dan kegurihan bumbunya beraroma tajam menusuk hidung memuaskan pesantap pagi, seingat saya bapak ini mulai berjualan saat saya masih berumur tujuh tahun, hingga sekarang.
Mungkin bagi mereka sederhana, berusaha semaksimal mungkin untuk bertahan. Memberikan yang terbaik bagi keluarga mereka dalam keterbatasan finansial. Hidup yang ndak muluk-muluk seperti orang kayak yang sebenernya miskin karena tidak pernah cukup mengenyangkan perut dan nafsu keinginannya, miskin hati. Mungkin bagi mereka rezeki halal jauh lebih bermakna walau berpenghasilan tidak seberapa, nanti hal-hal yang dipertanggungjawabkan kelak ndak banyak-banyak juga.
Hidup ini dinamis, doa tak selalu langsung diijabah, secara bimsalabim. Setiap orang diberi modal awal yang berbeda-beda, ada yang sudah kaya dari ortu nya, ada yang berangkat dari bawah. Tapi Tuhan adil memberikan porsi peluang untuk merubah yang sama, sesuai ikhtiar-nya. Toh bayangkan kalo setiap doa langsung diijabah tukang surabi, nasgor dan lontong itu berdoa diberi kekayaan, lantas langsung kaya, lah nanti saya sarapan tiap hari jadi ga semangat lagi, ga ada mereka, dan malam terus laper, ga ada makanan lagi. Sabar pa, bu, mudah-mudahan usaha dan kesabaran bapak ibu yang jadi pemberat penimbang nanti di akhirat, di surga masih ada nasgor, surabi atau lontong kari ga ya. Kalo iya pasti saya beli lagi :D

0 komentar:
Posting Komentar