17 April 2012

Skenario



Mungkin kita ga pernah tahu, rekayasa Allah yang luar biasa, hingga detik ini masih bisa merencanakan mimpi-mimpi dan masih bisa mengenang sejarah dan kenangan. Skenario ini kita tahu awalnya dan tak tahu ujungnya, makanya hidup ini indah, dan sepenuhnya manusia diberi pilihan, terserah dia mau ikut apa enggak dengan petunjuk yang udah dikasih, dibaca atau enggak, diikutin atau hanya jadi hiasan rak-rak lemari.


Hidup ini terasa di luar dugaan, mungkin kita lancar dan fasih menuliskan apa yang akan kita lakukan di peta hidup kita merajut angan-angan yang tinggi, membangun sebuah impian yang indah bila diceritakan, tapi Sang Penulis Skenario kadang berkehendak lain, membuat kita jadi peran yang gagal dalam sinetron kehidupan ini, dan kita menggerutu.

Masih segar di ingatan saya, dua tahun kebelakang masih dalam rutinitas kewajiban sebagai seorang guru yang mengajarkan materi-materi yang saya pun belum pahami betul, walau esok pagi harus dan wajib fresh dan semangat dalam menyampaikan pelajaran menginspirasi para santri, koar-koar untuk mengajarkan satu buah kalimat yang memiliki beribu arti. Membantu pondok dengan menjadi staf di pusat komputer pondok, memperbaiki computer yang rusak, menjadi teknisi abal-abal yang saya sendiri masih meraba-raba untuk menjadi bisa, hingga saya yang pusing karena ijazah pondok tidak diterima di salah satu PTN di Bandung, hingga saya putuskan untuk “nebeng” di MA di Kabupaten Bandung Soreang.

Ijazah teman saya ditolak mentah-mentah karena tidak disertakan nilai UN, loh memang kami tidak ada UN kok di sana masalah? Bukannya universitas itu juga ada ujiannya, yang mengukur apakah kemampuan kami masih tidak kalah saing dengan kompetitor lain yang juga calon mahasiswa, kok masalah nilai direpotin? Hati saya berontak memandang Negara ini ga adil, mungkin diskriminasi ras udah jarang, sekarang malah diskriminasi tentang pendidikan, dasar lembaga pendidikan komersilll !!!! , jujur saya menangis waktu itu.

Namun, malam itu saya berpikir, bukan merupakan kebetulan saya ditelepon ibu ke Bandung untuk pulang. Bukan kebetulan saya diajak kakak saya ke Ganesha Operation untuk ikut bimbingan belajar beserta kebingungan untuk menentukan IPA atau IPS karena di sana tidak ada penjurusan seperti ini. Bukan kebetulan kalau saya sekarang di Bandung dan kakak di Jakarta. Dan bukan kebetulan kalau saya sekarang harus benar-benar  membantu mengurus yayasan sosial di sini. Ini semua pasti ada hikmahnya.

Malam itu saya berdoa untuk ditunjukan jalan, dipermudah langkah saya. Hingga saya pun malu melihat semut yang bila di depan mereka ada benda besar yang menghalangi maka ia “berikhtiar” untuk muterin benda itu nyari jalan lain. Hingga saya ngerti, kalo yang kurang dari manusia adalah ikhtiarnya dan bukan fokus pada keluh kesah. Hingga perbincangan dengan bapak saya dimulai dan dicarikan madrasah yang mau menampung anak-anak calon mahasiswa yang tidak punya nilai UN seperti saya.

Hingga saat ini saya berdiri, bisa belajar di sini. Lulus tes seleksi PTN, mengendap-ngendap nafas di ilmu ekonomi yang saya pun ga pernah diajarin di sana, tapi saya yakin ini pasti ilmu luar biasa. Sekarang mereka sedang Ujian Nasional dengan hak mereka tanpa harus berikhtiar lebih, selain belajar dengan sungguh-sungguh dan lulus dengan keyakinan mental bersih. Bila ada yang masih mengeluh setelah jadi mahasiswa, saya lantas berpikir karena dia ga tahu skenario-Nya.
                 
                

0 komentar:

Posting Komentar