28 April 2012

Memecah Kesunyian Fajar




Kebakarann….. Kebakaran…..

Subuh itu tidak biasa, masyarakat yang berada di sekeloa timur khususnya terbangun dengan suara yang bergemuruh dari penduduk yang mondar-mandir untuk bangun. Gemuruh itu bermula dari aliran listrik yang menjalar menghantarkan bunyi ledakan, membumihanguskan dua mobil yang terpakir tidak jauh dari objek rumah yang terbakar …

Saya dan teman-teman kosan Al-Kahfi tergugah bangun, langsung meluncur ke daerah TKP tepat pukul 03.45 suasana belum terlalu ramai, namun tidak seluruhnya sibuk dengan membantu memadamkan air yang berada di objek kebakaran, sedangkan rumah sebelah sudah bersiap menghadang sayatan lidah-lidah api si jago merah. Kita pun berpisah disini, saya langsung menuju ke lantai tiga rumah samping objek kebakaran dan yang lain berpencar membantu. Si jago merah terasa menyilaukan dan saya segera menuju torn penyimpanan air di lantai teratas membantu mengambilkan air, jarak api dengan kami sekitar 10 meter.

Pukul 04.10-an pemadam kebakaran datang, persiapan pun disiapkan agak lama, mobil pemadam diparkirkan di depan jalan masuk menuju sekeloa di samping jalan dipatikur depan kampus unpad, selang yang disiapkan tidak terlalu sampai langsung ke tujuan, ditengah-tengah masyarakat yang mulai terbangun hilir mudik mencari ember dan air dan meneriakan aaaaaaairrrrrr airrrr, sang pemadam sibuk mempersiapkan selang yang  baru siap digunakan sekitar 10 menit kemudian,

Saya yang berada di lantai tiga rumah samping objek kebakaran, menggerus air dari torn air ternyata sudah hamper habis, tiba-tiba terdengar suara GURUSUKKKK. Astaghfirullah, dua orang di depan saya hampir jatuh ke lantai dua karena kayu yang sudah terbakar, terhentak panik kedua orang depan saya memegang tangan bapak yang tangannya menahan badannya hampir jatuh, jalan yang bisa dilalui di lantai atas hanya kayu-kayu diantara seng yang tidak terlihat jelas, lampu sekitar rumah padam. Mengintip ngintip di tengah gulitanya cahaya, suasana panik

Habisnya air di torn rumah samping, bertepatan dengan datangnya pemadam kebakaran, di bawah sudah banyak orang, mereka membentuk estapet ember berisi air dan saya menelusuri barisan estapet itu mencari celah, gulutukan ember dari atas meluncur deras meminta-minta air dari bawah, hingga pukul 04.15 saat si jago merah bisa dijinakan dan kepanikan orang-orang mereda. Tidak ada korban jiwa

Setidaknya ada beberapa hal yang saya dapat pagi buta ini. Kepanikan orang-orang yang masih bisa mencari tempat aman membuat saya berpikir bagaimana bila kiamat? Seluruh orang tidak mendapatkan tempat yang aman, baru kebakaran saja kepanikan orang-orang sudah luar biasa menjerit-jerit hilir mudik menggugah jiwa sosial tiap orang untuk melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membantu, walau hanya meminjamkan ember dari rumah mereka. Jika hari itu tiba, bahkan Al-Qur’an memberikan gambaran bagaimana situasi hari itu dalam surat Abasa

34. Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),  Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, 35. Dari ibu dan bapaknya, 36. Dari istri dan anak-anaknya. 37  Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.

Kembali lagi untuk bersyukur, bahwa apa yang kita punya sekarang semahal apapun tidak ada apa-apanya, bila musibah yang sudah ditulis lauhul mahfudz itu jatuh tenggat waktunya dan terjadi di bumi ini, masihkan adakah yang kita sombongkan bila apa yang dititipkan Allah pada kita diambil oleh Sang Pemilik Segalanya? Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan?


0 komentar:

Posting Komentar