Kebakarann….. Kebakaran…..
Subuh itu tidak
biasa, masyarakat yang berada di sekeloa timur khususnya terbangun dengan suara
yang bergemuruh dari penduduk yang mondar-mandir untuk bangun. Gemuruh itu
bermula dari aliran listrik yang menjalar menghantarkan bunyi ledakan,
membumihanguskan dua mobil yang terpakir tidak jauh dari objek rumah yang
terbakar …
Saya dan
teman-teman kosan Al-Kahfi tergugah bangun, langsung meluncur ke daerah TKP
tepat pukul 03.45 suasana belum terlalu ramai, namun tidak seluruhnya sibuk
dengan membantu memadamkan air yang berada di objek kebakaran, sedangkan rumah
sebelah sudah bersiap menghadang sayatan lidah-lidah api si jago merah. Kita
pun berpisah disini, saya langsung menuju ke lantai tiga rumah samping objek
kebakaran dan yang lain berpencar membantu. Si jago merah terasa menyilaukan
dan saya segera menuju torn penyimpanan air di lantai teratas membantu
mengambilkan air, jarak api dengan kami sekitar 10 meter.
Pukul 04.10-an
pemadam kebakaran datang, persiapan pun disiapkan agak lama, mobil pemadam
diparkirkan di depan jalan masuk menuju sekeloa di samping jalan dipatikur
depan kampus unpad, selang yang disiapkan tidak terlalu sampai langsung ke
tujuan, ditengah-tengah masyarakat yang mulai terbangun hilir mudik mencari ember
dan air dan meneriakan aaaaaaairrrrrr airrrr, sang pemadam sibuk mempersiapkan
selang yang baru siap digunakan sekitar
10 menit kemudian,
Saya yang berada
di lantai tiga rumah samping objek kebakaran, menggerus air dari torn air
ternyata sudah hamper habis, tiba-tiba terdengar suara GURUSUKKKK.
Astaghfirullah, dua orang di depan saya hampir jatuh ke lantai dua karena kayu
yang sudah terbakar, terhentak panik kedua orang depan saya memegang tangan
bapak yang tangannya menahan badannya hampir jatuh, jalan yang bisa dilalui di
lantai atas hanya kayu-kayu diantara seng yang tidak terlihat jelas, lampu
sekitar rumah padam. Mengintip ngintip di tengah gulitanya cahaya, suasana
panik
Habisnya air di
torn rumah samping, bertepatan dengan datangnya pemadam kebakaran, di bawah
sudah banyak orang, mereka membentuk estapet ember berisi air dan saya
menelusuri barisan estapet itu mencari celah, gulutukan ember dari atas
meluncur deras meminta-minta air dari bawah, hingga pukul 04.15 saat si jago
merah bisa dijinakan dan kepanikan orang-orang mereda. Tidak ada korban jiwa
Setidaknya ada
beberapa hal yang saya dapat pagi buta ini. Kepanikan orang-orang yang masih
bisa mencari tempat aman membuat saya berpikir bagaimana bila kiamat? Seluruh orang
tidak mendapatkan tempat yang aman, baru kebakaran saja kepanikan orang-orang
sudah luar biasa menjerit-jerit hilir mudik menggugah jiwa sosial tiap orang
untuk melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membantu, walau hanya meminjamkan
ember dari rumah mereka. Jika hari itu tiba, bahkan Al-Qur’an memberikan
gambaran bagaimana situasi hari itu dalam surat Abasa
34.
Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), Pada
hari ketika manusia lari dari saudaranya, 35. Dari ibu dan bapaknya, 36. Dari
istri dan anak-anaknya. 37 Setiap orang dari mereka pada hari itu
mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
Kembali lagi untuk bersyukur, bahwa
apa yang kita punya sekarang semahal apapun tidak ada apa-apanya, bila musibah
yang sudah ditulis lauhul mahfudz itu jatuh tenggat waktunya dan terjadi di
bumi ini, masihkan adakah yang kita sombongkan bila apa yang dititipkan Allah
pada kita diambil oleh Sang Pemilik Segalanya? Maka nikmat Tuhan yang mana lagi
yang kita dustakan?

0 komentar:
Posting Komentar