30 April 2012

Wakil Sang Penyayang



Pernah pada minggu sore, saya cukur di salah tempat cukur di binong, di samping saya kebetulan seorang anak kecil usianya masih beberapa tahun belum balita, laki-laki sangat lucu menggemaskan rambutnya ingin dicukur ditemani juga dengan ibunya.

Sambil si tukang cukur bersiap-siap mengeksekusi rambut anak tersebut. ibunya basa-basi menenangkan anaknya dengan mengajak si anak berbicara, sambil anaknya ketakutan dicukur tersendak-sendak menangis heuu heuu heuu ……

ini de ihhh lucu ya spongbobnya warna ijo, anaknya tetap nangis heuu heuuu heuu, ibunya mencoba menghibur

(dalam hati berkata, emang ada spongbob ijo hehe)

Doranya ya maen yaaa ama dora nanti cup cup puk puk, kata ibunya sibuk

(sok aja maen ama dora, paling kesasar hehe *dalam hati)

Hingga saya sudah hampir selesai anak itu pun selesai lebih dulu, rambutnya lumayan keren untuk ukuran bocah seumurannya, lalu ibunya menggendong anak tersebut walaupun anaknya berisik, agak mukul-mukul lambat merengek, ibunya tetap mempukpuk punggungnya.


Seketika ngaji, pasti kita diajarkan untuk menghafal doa kepada orang tua kita
Rabbighfirli wa liwalidayya warhamhuma kama rabbayani shogiro

Ya Tuhan ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan kasihanilah orang tuaku sebagaimana mereka mengasuh/mendidik aku sewaktu kecil

Apakah kita pernah melihat seorang ibu yang dengan sabar mendidik dalam isak tangis seorang anak. Memeluknya dengan erat saat anak kesayangannya melakukan kesalahan, dan menghiburnya dengan bijak untuk tidak mengulanginya dengan bahasa ibu.

Pernahkah kita melihat seorang ibu yang tersenyum, ketika anaknya jatuh saat belajar berjalan dan mengangkat tangannya lalu menggendongnya dan berkata “anak ibu hebat, jangan menyerah”

Walau telah udzur umur kedua orang tua kita, kasih nya terpancar kembali saat melihat bagaimana mereka memperlakukan anak kecil balita yang masih lucu menggemaskan dengan sayang, lalu kita bergumam dalam hati, berarti dulu kita diperlakukan begitu juga saat kita kecil. Dengan kasih sayang yang tidak dapat kita bayar.

Makna doa itu begitu dalam, sebagai insan yang berlumuran dosa mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kita, mendidik kita dan memperingati kita dengan bijaksana laksana seorang ibu yang sabar melihat anaknya melakukan kesalahan, tak peduli sebesar apapun kesalahan itu. Ia tetap tersenyum

Gapailah ridho orangtua kita, karena itu mewakili ridho-Nya.




0 komentar:

Posting Komentar